choleray.com, 06 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Candi Borobudur, situs warisan budaya dunia UNESCO di Magelang, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan publik setelah Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengumumkan rencana pemasangan stairlift secara permanen di candi Buddha terbesar di dunia ini. Wacana ini pertama kali mencuat seiring kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada 29 Mei 2025, di mana stairlift sementara dipasang untuk memudahkan akses ke tingkatan candi. Rencana ini memicu diskusi luas, dengan pendukung yang menyoroti aspek inklusivitas bagi penyandang disabilitas dan lansia, serta penentang yang khawatir akan potensi kerusakan terhadap struktur candi dan nilai historisnya. Artikel ini akan mengulas secara mendalam latar belakang, tujuan, mekanisme pemasangan, pro dan kontra, serta implikasi dari rencana ini berdasarkan informasi yang akurat dan terpercaya.
Latar Belakang Rencana Pemasangan Stairlift

Candi Borobudur, yang dibangun pada abad ke-9, merupakan monumen Buddha dengan struktur tangga curam berbahan batu andesit, setinggi sekitar 35 meter atau setara gedung 12 lantai. Dengan kemiringan tangga mencapai 46 derajat, akses ke tingkatan atas candi menjadi tantangan bagi pengunjung dengan keterbatasan mobilitas, seperti lansia, penyandang disabilitas, atau biksu senior yang ingin beribadah. Selama ini, pengelola candi memberlakukan aturan ketat, seperti penggunaan sandal khusus (upanat), untuk melindungi batuan candi dari abrasi, menunjukkan komitmen terhadap pelestarian.
Pada 29 Mei 2025, stairlift sementara dipasang di sisi selatan candi untuk memfasilitasi kunjungan Presiden Prabowo dan Presiden Macron. Menurut Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi, pemasangan ini diminta oleh Pemerintah Prancis karena waktu kunjungan yang terbatas, memungkinkan akses cepat ke tingkat empat hingga delapan candi tanpa menaiki tangga secara manual. Stairlift ini bersifat portabel, menggunakan kursi bermotor yang bergerak pada rel di sepanjang tangga, dengan kecepatan konstan 0,15 meter per detik dan kapasitas beban hingga 120 kilogram. Pemasangan dilakukan tanpa paku atau bor, dengan tumpuan pada pelat besi untuk menghindari kerusakan pada batuan candi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam pernyataannya pada 29 Mei 2025 di Candi Borobudur, mengungkapkan bahwa pemasangan stairlift ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang yang telah lama dibahas. Ia mengusulkan agar stairlift diuji coba untuk menjadi fasilitas permanen, dengan tujuan meningkatkan inklusivitas bagi pengunjung dengan kebutuhan khusus. “Kita harapkan, nanti ini uji coba dulu ya. Karena untuk inklusivitas, di semua cagar budaya dunia sudah dipasang,” ujar Fadli, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber media.
Tujuan dan Manfaat yang Diusung

Rencana pemasangan stairlift permanen di Candi Borobudur didasarkan pada beberapa tujuan utama, yang mencerminkan visi pemerintah untuk menjadikan situs warisan budaya ini lebih inklusif:
- Inklusivitas untuk Semua Pengunjung: Stairlift bertujuan memudahkan akses bagi lansia, penyandang disabilitas, dan biksu senior yang kesulitan menaiki tangga curam. Direktur Utama InJourney Destination Management (IDM), Maya Watono, menegaskan bahwa fasilitas ini tidak hanya untuk kunjungan kenegaraan, tetapi juga untuk publik, khususnya biksu yang ingin beribadah di tingkatan atas candi.
- Peningkatan Aksesibilitas Wisata: Dengan stairlift, Candi Borobudur diharapkan menjadi destinasi wisata yang lebih ramah bagi berbagai kalangan, mendukung visi pemerintah menjadikan Borobudur sebagai pusat ziarah umat Buddha dunia.
- Konservasi Tanpa Kerusakan: Pengelola menegaskan bahwa stairlift dirancang portabel, tanpa paku atau bor, sehingga tidak merusak struktur candi. Fadli Zon menegaskan, “Tidak ada satu mur-baut pun yang merusak batu,” dan pemasangan telah mempertimbangkan standar konservasi UNESCO.
- Preseden Global: Fadli Zon mengklaim bahwa stairlift telah digunakan di situs warisan dunia lain, seperti Sistine Chapel, Forbidden City, dan Parthenon Acropolis, untuk mendukung inklusivitas tanpa mengorbankan pelestarian. Namun, klaim ini menuai keraguan, terutama terkait Angkor Wat, yang ternyata tidak memiliki stairlift untuk menjaga keaslian arsitekturnya.
Direktur Forum Buddhis Indonesia (FBI), Adian Radiatus, mendukung wacana ini, menyebut stairlift sebagai bentuk keterbukaan Borobudur untuk aktivitas keagamaan, wisata, dan penelitian. Ia juga menyoroti kebanggaan nasional karena stairlift digunakan oleh dua pemimpin negara besar, menandai momen bersejarah tanpa merusak candi.
Mekanisme dan Spesifikasi Pemasangan

Menurut InJourney, pengelola Kawasan Candi Borobudur, stairlift dipasang hanya di salah satu dari empat tangga utama candi, yaitu pintu selatan, untuk meminimalkan intervensi. Spesifikasi teknis stairlift meliputi:
- Desain Portabel: Stairlift bersifat bongkar-pasang, dengan rel diletakkan pada pelat besi tanpa penetrasi ke batuan candi.
- Kecepatan dan Kapasitas: Bergerak dengan kecepatan 0,15 meter per detik, mampu menempuh satu lantai dalam 45 detik, dengan kapasitas beban hingga 120 kilogram.
- Sumber Daya: Menggunakan tenaga listrik, dengan mekanisme yang dirancang untuk stabilitas dan keamanan.
- Standar Konservasi: Pemasangan telah dikonsultasikan dengan Kementerian Kebudayaan dan dianggap sesuai dengan pedoman UNESCO, meskipun belum ada laporan resmi dari UNESCO terkait rencana permanen ini.
Selain stairlift, pemerintah juga menyediakan jalur landai (ramp) hingga tingkat keempat candi untuk mendukung aksesibilitas. Pengelola menegaskan bahwa semua instalasi dilakukan dengan teknik sipil yang matang untuk menghindari kerusakan pada batuan andesit yang rentan terhadap tekanan dan gesekan.
Pro dan Kontra Rencana Pemasangan

Wacana pemasangan stairlift permanen memicu perdebatan sengit di kalangan masyarakat, budayawan, arkeolog, dan aktivis. Berikut adalah analisis pro dan kontra berdasarkan tanggapan berbagai pihak:
Pendukung
- Inklusivitas dan Aksesibilitas: Ketua DPD Walubi Jawa Tengah, Tanto Harsono, yang mencoba stairlift saat dalam kondisi pascaoperasi, memuji fasilitas ini karena memudahkan pengunjung dengan keterbatasan fisik. “Luar biasa. Jadi kaki saya yang biasa sakit, sekarang naik tidak terasa,” ujarnya.
- Manfaat Keagamaan: Direktur Forum Buddhis Indonesia, Adian Radiatus, menyatakan bahwa stairlift memungkinkan biksu senior untuk beribadah di tingkatan atas, yang selama ini sulit diakses.
- Dukungan Teknologi Noninvasif: Maya Watono dari InJourney menegaskan bahwa stairlift tidak merusak candi karena tidak menggunakan paku atau bor, dan instalasi telah memenuhi standar konservasi.
- Momen Bersejarah: Pemasangan stairlift untuk kunjungan dua pemimpin negara dianggap sebagai pencapaian diplomatik, meningkatkan citra Borobudur sebagai destinasi global.
Penentang
- Potensi Kerusakan Struktur: Arkeolog dari Universitas Negeri Malang, Ismail Lutfi, menolak keras pemasangan stairlift, menyebutnya mengorbankan upaya konservasi puluhan tahun demi kenyamanan sesaat. Ia menegaskan bahwa batuan andesit candi rentan terhadap tekanan dan getaran, meskipun tanpa paku atau bor.
- Gangguan Visual dan Kesakralan: Forum Aktivis Buddhis Dharmapala Nusantara, melalui Ketua Umum Kevin Wu, menyatakan bahwa stairlift mencemari keaslian visual dan kesakralan Borobudur sebagai monumen hidup. “Candi Borobudur bukan taman hiburan,” tegasnya, mempertanyakan dampak getaran mikro dan kontak jangka panjang pada batuan.
- Penghormatan terhadap Keaslian: Budayawan Yogyakarta, Jumaldi Alfi, menyebut rencana ini sebagai “tunabudaya” karena dianggap tidak menghargai warisan adiluhung bangsa. Ia menegaskan bahwa Borobudur harus diperlakukan sebagai situs sakral, bukan komoditas wisata.
- Potensi Teguran UNESCO: Butet Kartaredjasa, budayawan lain dari Yogyakarta, khawatir bahwa modifikasi permanen dapat memicu teguran dari UNESCO, mengingat status Borobudur sebagai warisan dunia. Ia menyarankan pembatalan rencana untuk menghindari polemik.
- Alternatif Noninvasif: Arkeolog seperti Ismail Lutfi dan Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, menyarankan penggunaan teknologi seperti augmented reality (AR) untuk memberikan pengalaman virtual tanpa mengubah struktur candi.
Implikasi Hukum dan Kebijakan
Pemasangan stairlift di Candi Borobudur harus mematuhi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang mengatur pelestarian situs warisan budaya nasional. Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Marsis Sutopo, menekankan bahwa instalasi harus memenuhi pedoman UNESCO dan tidak boleh menurunkan citra Borobudur sebagai warisan dunia.
Keputusan akhir mengenai stairlift permanen akan melibatkan Kementerian Kebudayaan, Dewan Cagar Budaya, dan pengelola kawasan. Hasan Nasbi menegaskan bahwa usulan ini akan dibahas dalam rapat resmi dengan mempertimbangkan masukan dari para ahli dan pemangku kepentingan.
Biaya dan Kelayakan Ekonomi
Meskipun biaya pasti pemasangan stairlift permanen belum diumumkan, estimasi biaya stairlift di Indonesia bervariasi tergantung pada jenis dan kompleksitas instalasi. Berdasarkan sumber media, biaya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk sistem portabel, dengan tambahan biaya perawatan dan listrik. Pengelola menyatakan bahwa investasi ini sebanding dengan manfaat inklusivitas dan potensi peningkatan kunjungan wisatawan.
Tanggapan Publik dan Media Sosial
Wacana stairlift memicu kehebohan di media sosial, terutama setelah munculnya hoaks tentang pemasangan eskalator atau ekskavator di Borobudur. Fadli Zon dengan tegas membantah informasi ini, menegaskan bahwa yang dipasang adalah stairlift portabel, bukan eskalator masif. Postingan di platform X mencerminkan polarisasi opini, dengan beberapa mendukung inklusivitas dan yang lain mempertanyakan dampak pada pelestarian.
Rekomendasi untuk Implementasi
Untuk menyeimbangkan antara inklusivitas dan pelestarian, beberapa rekomendasi dapat dipertimbangkan:
- Kajian Teknis dan Arkeologis: Lakukan uji tuntas independen untuk mengevaluasi dampak stairlift terhadap batuan candi, termasuk getaran mikro dan tekanan jangka panjang, dengan melibatkan arkeolog, insinyur, dan UNESCO.
- Konsultasi Publik: Adakan dialog dengan komunitas adat, aktivis Buddha, budayawan, dan masyarakat lokal untuk memastikan penerimaan sosial dan menghindari politisasi.
- Alternatif Teknologi: Pertimbangkan solusi noninvasif seperti teknologi AR atau platform pengamatan di tingkat rendah untuk pengunjung dengan keterbatasan mobilitas.
- Transparansi: Publikasikan hasil kajian dan rencana pemasangan untuk menangkal hoaks dan membangun kepercayaan publik.
- Uji Coba Terbatas: Lanjutkan uji coba stairlift dengan pemantauan ketat sebelum memutuskan pemasangan permanen, dengan batas waktu evaluasi yang jelas.
Kesimpulan
Rencana pemasangan stairlift permanen di Candi Borobudur, yang diungkapkan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, mencerminkan upaya pemerintah untuk meningkatkan inklusivitas di salah satu situs warisan budaya dunia. Dengan desain portabel yang diklaim tidak merusak struktur candi, stairlift diharapkan memudahkan akses bagi lansia, penyandang disabilitas, dan biksu senior, sekaligus mendukung visi Borobudur sebagai destinasi ziarah global. Namun, wacana ini menuai kontroversi karena potensi ancaman terhadap keaslian visual, kesakralan, dan integritas struktural candi, seperti yang disuarakan oleh arkeolog, budayawan, dan aktivis Buddha.
Keberhasilan rencana ini bergantung pada keseimbangan antara inovasi inklusivitas dan komitmen terhadap pelestarian. Dengan kajian teknis yang transparan, konsultasi luas, dan pendekatan yang hati-hati, pemerintah dapat memastikan bahwa Candi Borobudur tetap menjadi warisan adiluhung yang dihormati dunia, tanpa mengorbankan nilai historis dan spiritualnya. Hingga keputusan akhir diambil, uji coba stairlift akan menjadi langkah krusial untuk menentukan apakah fasilitas ini dapat menjadi solusi jangka panjang yang harmonis dengan nilai-nilai Borobudur.
BACA JUGA : Politik dan Analisis Ekonomi Republik Ceko
BACA JUGA : Panduan Lengkap Travelling ke Republik Ceko untuk Wisatawan Indonesia
BACA JUGA: Lingkungan, Sumber Daya Alam, dan Penduduk Republik Ceko: Analisis Mendalam