Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai bangkit pada perdagangan Selasa pagi, 26 Mei 2026, dengan bergerak menuju kisaran 6.257 setelah sepekan sebelumnya ambles 8,35 persen ke level 6.162. Motor utama rebound adalah saham-saham Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu yang kompak melonjak belasan hingga hampir dua puluh persen dalam sesi pembukaan.
Mengapa IHSG Ambruk Sepekan dan Mengapa Rebound Sekarang?

IHSG mencatatkan koreksi tajam sepanjang 18–22 Mei 2026, turun 561,28 poin atau 8,35 persen dan sempat menyentuh titik terendah tahun ini di 5.966. Menurut data BEI, kapitalisasi pasar bursa Indonesia menyusut Rp 1.190 triliun hanya dalam sepekan, dari Rp 11.825 triliun menjadi Rp 10.635 triliun.
Penyebab utama kejatuhan itu tiga lapis. Pertama, proses rebalancing indeks MSCI yang memaksa manajer investasi global melepas saham-saham berkapitalisasi besar. Kedua, rencana implementasi kebijakan ekspor satu pintu komoditas strategis termasuk batu bara yang memantik kekhawatiran investor. Ketiga, tekanan nilai tukar rupiah akibat sikap hawkish The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi — dan respons Bank Indonesia yang ikut menaikkan bunga acuan 50 basis poin demi menjaga stabilitas rupiah.
Tiga saham utama Grup Barito — BREN, BRPT, dan TPIA — menjadi laggards terbesar IHSG sepekan itu, sesuai data resmi BEI. Saham TPIA bahkan tertekan tujuh hari perdagangan berturut-turut akibat kekhawatiran keluarnya emiten itu dari indeks MSCI.
Rebound pagi ini dipicu kombinasi dua sentimen positif: munculnya rumor penundaan kebijakan ekspor satu pintu hingga 1 Januari 2027, dan aksi beli teknikal (technical rebound) setelah valuasi saham-saham tersebut dianggap sudah terdiskon terlalu dalam. Untuk konteks berita Indonesia terkini seputar kebijakan pemerintah yang memengaruhi pasar, dinamika ini mencerminkan betapa sensitif bursa terhadap sinyal regulasi dari Jakarta.
Saham Prajogo Pangestu: Siapa Melonjak Berapa?

Data RTI Business pukul 09.08 WIB, 26 Mei 2026, mencatat penguatan signifikan di seluruh lini emiten Grup Barito:
| Emiten | Kode | Kenaikan Pagi Ini | Harga (Rp) |
|---|---|---|---|
| Chandra Asri Pacific | TPIA | +19,55% | 2.100 |
| Petrindo Jaya Kreasi | CUAN | +17,28% | 570 |
| Barito Renewables | BREN | +10,08% | 2.620 |
| Barito Pacific | BRPT | +11,15% | 1.645 |
Lonjakan TPIA paling mencolok. Saham ini sempat menyentuh Rp 2.200 per unit sebelum terkoreksi sedikit ke Rp 2.040 menurut data IDX Channel pukul 09.53 WIB. Penguatan ini sekaligus menjadi upaya memutus tren bearish tujuh hari berturut-turut.
“TPIA akan keluar dari indeks MSCI karena jumlah shareholders di atas 1 persen yang dibuka oleh BEI membuat market cap free float tidak memenuhi threshold.” — Michael Yeoh, Pengamat Pasar Modal, 21 Mei 2026
Komentar Michael yang disampaikan sepekan lalu itu menjelaskan mengapa tekanan pada TPIA begitu dalam. Namun dengan valuasi yang sudah terkoreksi lebih dari 60 persen sejak akhir 2025, pelaku pasar mulai melihat level saat ini sebagai titik entry menarik.
Dampak terhadap Kekayaan Prajogo dan Pasar Modal Indonesia

Kerugian nilai portofolio Prajogo Pangestu selama sepekan terakhir bukan angka kecil. Berdasarkan data yang dilansir Investortrust per 21 Mei 2026, total market cap enam emiten Grup Barito menyusut Rp 1.924,89 triliun atau 68,96 persen sejak akhir 2025 — dari Rp 2.791,56 triliun menjadi hanya Rp 866,67 triliun.
Total kekayaan bersih Prajogo tercatat US$ 15,2 miliar per 21 Mei 2026, turun dari US$ 22,5 miliar di penghujung 2025. Posisinya bergeser dari orang terkaya nomor satu menjadi nomor tiga di Indonesia.
Bagi investor ritel Indonesia, ini momen pelajaran penting. Kebijakan ekspor satu pintu dan dampaknya terhadap sektor komoditas menjadi salah satu variabel makro yang kini wajib dipantau bersamaan dengan sentimen global. Volatilitas yang dipicu regulasi domestik terbukti sama menghancurkannya dengan guncangan eksternal.
Reaksi Analis: Technical Rebound atau Pembalikan Tren?

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menyebut posisi IHSG saat ini telah berhasil bertahan di area support kritis, dengan target resistance di kisaran 6.250–6.300.
“Penguatan yang terjadi saat ini masih dinilai sebagai technical rebound dan belum mengonfirmasi perubahan tren utama.” — Brigita, Analis KabarBursa, Selasa 26 Mei 2026
Pandangan ini penting untuk dicermati. Kalau pasar masih menunggu kepastian soal MSCI dan kebijakan ekspor, volatilitas sepekan ke depan bisa tetap tinggi — apalagi minggu ini hanya tiga hari perdagangan karena libur Idul Adha.
Saham yang direkomendasikan analis hari ini antara lain SUPA, HRTA, dan MAPA. Sebaliknya, TPIA justru masuk dalam daftar rekomendasi jual dari BRI Danareksa karena masih dalam tren bearish jangka menengah — meski pagi ini melonjak.
Konteks yang lebih luas: pengawasan otoritas terhadap sektor keuangan dan korporasi besar menjadi sinyal bahwa transparansi data kepemilikan saham — seperti yang dilakukan BEI soal free float TPIA — kini makin ketat dan berdampak langsung ke pergerakan indeks.
Apa Selanjutnya untuk IHSG dan Saham Prajogo?
Ada tiga variabel yang akan menentukan arah IHSG pekan ini dan pekan depan.
Pertama, kepastian soal rebalancing MSCI. Kalau TPIA resmi keluar dari indeks MSCI, tekanan jual dari fund global berpotensi berlanjut meski intensitasnya lebih rendah dari yang sudah terjadi.
Kedua, nasib kebijakan ekspor satu pintu. Penundaan hingga 2027 — jika dikonfirmasi resmi — akan jadi katalis positif signifikan untuk saham-saham sektor basic materials dan energi.
Ketiga, arah rupiah dan suku bunga. Keputusan Bank Indonesia menaikkan bunga acuan 50 bps menjadi rem likuiditas. Kalau The Fed memberi sinyal dovish dalam pertemuan berikutnya, tekanan terhadap rupiah dan IHSG bisa mereda.
Pekan ini hanya tiga hari perdagangan (Selasa–Kamis, libur Idul Adha Jumat–Senin). Volume tipis bisa membuat pergerakan harga lebih volatil di kedua arah. Investor disarankan tetap disiplin manajemen risiko.
Newsletter: Dapatkan update pasar modal dan berita ekonomi Indonesia langsung ke inbox — daftar di choleray.com