Ade Armando: Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden Terbaik dalam Sejarah Indonesia

Ade Armando: Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden Terbaik dalam Sejarah Indonesia

choleray.com, 22 MEI 2025

Penulis: Riyan Wicaksono

Editor: Muhammad Kadafi

Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Pada Mei 2025, pernyataan kontroversial dari politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ade Armando, menggemparkan publik Indonesia. Dalam wawancara di Siniar Gaspol Kompas.com pada 21 Mei 2025, Ade Armando menyatakan bahwa Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2024-2029, adalah wakil presiden terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Pernyataan ini memicu berbagai reaksi, baik dukungan maupun kritik, di tengah dinamika politik Indonesia yang kompleks. Artikel ini akan mengulas secara mendalam konteks pernyataan Ade Armando, profil Gibran sebagai wapres, argumen yang mendukung dan menentang klaim tersebut, serta implikasinya dalam lanskap politik nasional.

Latar Belakang Pernyataan Ade Armando

Ade Armando, seorang akademikus, pegiat media sosial, dan politikus PSI, dikenal sebagai figur yang vokal dalam menyampaikan pandangan politiknya. Lahir pada 24 September 1961, Ade memiliki latar belakang sebagai dosen di Universitas Pelita Harapan dan sebelumnya di Universitas Indonesia, serta pernah menjabat sebagai anggota Komisi Penyiaran Indonesia (2004-2007). Ia sering kali membuat pernyataan yang memicu perdebatan, termasuk kritiknya terhadap penegakan syariat Islam di Indonesia dan pandangannya tentang figur politik tertentu, seperti menyebut Anies Baswedan sebagai gubernur terburuk DKI Jakarta.

Pernyataan Ade tentang Gibran sebagai wapres terbaik disampaikan dalam konteks membela Gibran dari kritik yang menyebutnya tidak layak menjabat sebagai wakil presiden. Kritik ini sebagian besar berasal dari persepsi bahwa pencalonan Gibran, putra sulung mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), merupakan wujud politik dinasti. Selain itu, usia Gibran yang baru 37 tahun saat dilantik pada 20 Oktober 2024, menjadikannya wapres termuda dalam sejarah Indonesia, menggeser Mohammad Hatta yang dilantik pada usia 43 tahun.

Ade Armando menegaskan bahwa penilaian terhadap Gibran tidak boleh hanya berdasarkan statusnya sebagai anak Jokowi, melainkan pada prestasi dan kinerjanya. Ia juga menantang para pengkritik untuk memberikan bukti konkret bahwa Gibran tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai wapres.

Profil Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden

Gibran Rakabuming Raka, lahir di Solo pada 1 Oktober 1987, adalah pengusaha dan politikus yang menjabat sebagai Wali Kota Solo (2021-2024) sebelum menjadi wakil presiden. Ia dilantik sebagai wapres pada 20 Oktober 2024, mendampingi Presiden Prabowo Subianto, dengan usia 37 tahun, menjadikannya wapres termuda dalam sejarah Indonesia. Pencalonannya sebagai cawapres menuai kontroversi karena perubahan batas usia minimal melalui Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90 Tahun 2023, yang memungkinkan seseorang di bawah 40 tahun menjadi cawapres jika pernah menjabat sebagai kepala daerah melalui pemilu.

Sebagai wapres, Gibran telah aktif dalam beberapa program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran, seperti:

  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Gibran meninjau pelaksanaan program ini untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan gizi yang memadai.
  • Program Cek Kesehatan Gratis (CKG): Ia turut memantau pelaksanaan program kesehatan gratis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
  • Penguatan Ekosistem Teknologi Nasional: Gibran mendorong Persatuan untuk memperkuat inovasi teknologi, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
  • Kunjungan Kerja: Gibran melakukan kunjungan kerja, seperti ke Sumatra Utara, untuk mengevaluasi program pemerintah dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Gibran juga dikenal karena gaya komunikasinya yang aktif memanfaatkan media sosial, seperti mengunggah video di kanal YouTube pribadinya untuk menyampaikan pandangan tentang isu-isu nasional. Selain itu, penampilannya dalam debat cawapres pada Pemilu 2024, di mana ia dianggap mampu menandingi Mahfud MD, menjadi salah satu poin yang dipuji oleh pendukungnya, termasuk Ade Armando.

Argumen Ade Armando: Mengapa Gibran Disebut Wapres Terbaik?

Ade Armando menyampaikan beberapa argumen untuk mendukung klaimnya bahwa Gibran adalah wakil presiden terbaik sepanjang sejarah Indonesia:

  1. Kontribusi Elektabilitas Prabowo: Ade menilai bahwa Gibran adalah faktor kunci dalam kemenangan Prabowo Subianto pada Pilpres 2024. Menurut quick count dari lembaga survei seperti LSI Denny JA dan CSIS, pasangan Prabowo-Gibran memperoleh lebih dari 58% suara, menunjukkan popularitas mereka. Ade berargumen bahwa Gibran, dengan basis pemilih muda dan pengalaman sebagai Wali Kota Solo, meningkatkan daya tarik pasangan ini di kalangan pemilih.
  2. Prestasi dan Kinerja: Ade menyebut bahwa Gibran telah menunjukkan “achievement” yang signifikan, meskipun baru beberapa bulan menjabat. Ia menyoroti gaya komunikasi Gibran yang modern, termasuk penggunaan media sosial untuk menjangkau masyarakat luas, serta keterlibatannya dalam program-program strategis seperti MBG dan CKG.
  3. Penampilan di Debat Cawapres: Ade memuji penampilan Gibran dalam debat cawapres melawan Mahfud MD, yang dianggapnya sebagai bukti kemampuan Gibran dalam beradu gagasan. Menurut Ade, Gibran menunjukkan kecerdasan dan ketangkasan berpikir, meskipun usianya jauh lebih muda dibandingkan lawan debatnya.
  4. Tantangan kepada Pengkritik: Ade menantang pihak yang meragukan Gibran untuk memberikan bukti konkret bahwa Gibran tidak kompeten. Ia menegaskan bahwa tidak ada indikasi Gibran “goblok, tolol, atau ngaco,” dan meminta pengkritik untuk menunjukkan contoh spesifik ketidakmampuannya.
  5. Melawan Narasi Politik Dinasti: Ade menolak anggapan bahwa Gibran menjadi wapres hanya karena statusnya sebagai anak Jokowi. Ia berargumen bahwa Gibran memiliki kualitas dan prestasi sendiri, seperti keberhasilannya sebagai Wali Kota Solo, yang membuatnya layak menduduki posisi tersebut.

Kritik terhadap Pernyataan Ade Armando

Pernyataan Ade Armando menuai berbagai kritik, terutama dari pihak yang memandang Gibran belum teruji secara signifikan sebagai wapres. Beberapa poin kritik meliputi:

  1. Kontroversi Pencalonan Gibran: Pencalonan Gibran sebagai cawapres dipenuhi polemik etika dan hukum, terutama terkait Putusan MK Nomor 90 Tahun 2023 yang dianggap memfasilitasi pencalonannya. Sejumlah pihak, termasuk peneliti politik dari BRIN, Firman Noor, menyebut putusan ini sebagai indikasi “pembajakan demokrasi” oleh politik dinasti. Survei LSI menunjukkan bahwa 42,7% responden yang mengetahui putusan MK tidak setuju dengan perubahan batas usia tersebut.
  2. Kurangnya Bukti Kinerja Jangka Panjang: Gibran baru menjabat sebagai wapres selama beberapa bulan pada Mei 2025, sehingga banyak pihak menilai klaim “wapres terbaik sepanjang sejarah” terlalu prematur. Sejumlah purnawirawan jenderal TNI bahkan meminta Gibran dicopot, dengan alasan ia belum mumpuni untuk memimpin jika Presiden Prabowo Subianto wafat.
  3. Perbandingan dengan Wapres Lain: Indonesia memiliki 13 wakil presiden sebelum Gibran, termasuk tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan Jusuf Kalla, yang memiliki rekam jejak panjang dalam politik dan pemerintahan. Kritik dari pengguna media sosial, seperti @arifbalikpapan1, mempertanyakan bagaimana Gibran bisa dianggap lebih baik dari tokoh-tokoh tersebut.
  4. Kontroversi Ade Armando: Sebagian kritik juga menyoroti kredibilitas Ade Armando sebagai penutur pernyataan ini. Ade dikenal sebagai figur kontroversial dengan pandangan yang sering memicu polarisasi, seperti kritiknya terhadap syariat Islam dan tuduhan pribadi yang pernah dialamatkan kepadanya. Hal ini membuat beberapa pihak meragukan objektivitasnya.
  5. Isu Politik Dinasti: Meskipun Ade menolak narasi politik dinasti, banyak pihak tetap melihat pencalonan Gibran sebagai bagian dari upaya keluarga Jokowi untuk mempertahankan pengaruh politik. Hal ini diperkuat oleh kehadiran Kaesang Pangarep, adik Gibran, sebagai ketua PSI, partai yang sama dengan Ade Armando.

Konteks Sejarah Wakil Presiden Indonesia

Untuk memahami klaim Ade Armando, penting untuk melihat konteks sejarah wakil presiden Indonesia. Berikut adalah daftar beberapa wapres terpilih beserta usia saat dilantik dan kontribusi utama mereka:

  • Mohammad Hatta (1945-1956, usia 43 tahun): Berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan dasar negara, termasuk diplomasi internasional.
  • Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1973-1978, usia 61 tahun): Dikenal atas kontribusinya dalam pembangunan ekonomi dan stabilitas politik pasca-G30S.
  • Jusuf Kalla (2004-2009, 2014-2019, usia 62 dan 72 tahun): Berperan dalam penyelesaian konflik Aceh dan pembangunan infrastruktur.
  • Ma’ruf Amin (2019-2024, usia 76 tahun): Fokus pada penguatan ekonomi syariah dan harmoni sosial.

Dibandingkan dengan para pendahulunya, Gibran memiliki pengalaman politik yang relatif singkat, dengan hanya tiga tahun sebagai Wali Kota Solo sebelum menjadi wapres. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa klaim Ade Armando dianggap berlebihan oleh sebagian pihak.

Dampak dan Implikasi Pernyataan Ade Armando

Pernyataan Ade Armando memiliki beberapa implikasi dalam konteks politik Indonesia:

  1. Polarisasi Publik: Pernyataan ini memperkuat polarisasi antara pendukung dan pengkritik Gibran, terutama di media sosial. Postingan di X menunjukkan beragam reaksi, dari dukungan hingga sindiran terhadap Ade Armando.
  2. Penguatan Narasi PSI: Sebagai politikus PSI, pernyataan Ade dapat dilihat sebagai upaya untuk memperkuat posisi partainya, yang memiliki hubungan erat dengan keluarga Jokowi melalui Kaesang Pangarep. Hal ini juga sejalan dengan dukungan PSI terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
  3. Debat tentang Kualitas Kepemimpinan: Klaim Ade memicu diskusi tentang apa yang membuat seorang wakil presiden dianggap “terbaik.” Apakah diukur dari dampak elektabilitas, kinerja, atau pengaruh jangka panjang? Diskusi ini relevan mengingat Gibran masih dalam tahap awal kepemimpinannya.
  4. Tantangan bagi Gibran: Tantangan Ade kepada pengkritik Gibran menempatkan tekanan tambahan pada Gibran untuk membuktikan kinerjanya. Dengan usia yang masih muda, Gibran memiliki peluang untuk membangun legacy, tetapi juga menghadapi ekspektasi tinggi dari publik.

Kesimpulan

Pernyataan Ade Armando bahwa Gibran Rakabuming Raka adalah wakil presiden terbaik sepanjang sejarah Indonesia adalah pandangan yang subjektif dan kontroversial, yang didukung oleh argumen tentang kontribusi Gibran dalam elektabilitas Prabowo, kinerjanya sebagai wapres, dan kemampuan komunikasinya. Namun, pernyataan ini menuai kritik karena dianggap prematur, mengingat Gibran baru menjabat beberapa bulan dan memiliki pengalaman politik yang relatif singkat dibandingkan pendahulunya seperti Mohammad Hatta atau Jusuf Kalla. Kontroversi pencalonan Gibran, yang terkait dengan politik dinasti dan putusan MK, juga menjadi faktor yang memperumit penerimaan klaim ini.

Meskipun demikian, keterlibatan Gibran dalam program strategis seperti Makan Bergizi Gratis dan Cek Kesehatan Gratis menunjukkan komitmen awal untuk mendukung visi pemerintahan Prabowo-Gibran menuju Indonesia Emas 2045. Untuk membuktikan klaim Ade Armando, Gibran perlu terus menunjukkan prestasi yang signifikan dan terukur selama masa jabatannya. Bagi masyarakat, pernyataan ini menjadi pengingat untuk terus mengawasi kinerja pejabat publik dengan kritis dan objektif.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi sumber resmi seperti laman Wakil Presiden Republik Indonesia (www.wapresri.go.id) atau media terpercaya seperti Kompas.com dan Tribunnews.com.


BACA JUGA: Seni dan Tradisi Negara Palau: Warisan Budaya Mikronesia yang Kaya

BACA JUGA: Letak Geografis dan Fisik Alami Negara Seychelles

BACA JUGA: Kampanye Publik: Strategi, Implementasi, dan Dampak dalam Mendorong Perubahan Sosial



Share via
Copy link