choleray.com,7 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Pada Selasa, 6 Mei 2025, Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto, menghadiri acara Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) dan keluarga besar TNI-Polri di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Acara ini menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi antara presiden dengan para purnawirawan TNI dan Polri, sekaligus menarik perhatian publik karena Prabowo duduk semeja dengan Wakil Presiden ke-6 RI sekaligus mantan Panglima ABRI, Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno. Kehadiran keduanya dalam satu meja, di tengah dinamika politik terkait usulan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, memunculkan berbagai spekulasi dan analisis tentang makna politik dari momen tersebut.
Artikel ini menyajikan laporan profesional, lengkap, rinci, dan jelas tentang acara Halal Bihalal tersebut, dengan fokus pada kehadiran Prabowo, gestur hormatnya kepada Try Sutrisno, konteks politik yang melatarbelakangi, serta implikasi acara ini bagi hubungan antara pemerintah dan komunitas purnawirawan TNI-Polri. Informasi dalam artikel ini bersumber dari laporan media terpercaya, seperti Kompas.com, Liputan6.com, dan Antara News, serta dianalisis dengan pendekatan jurnalistik yang kritis dan objektif.
Latar Belakang Acara Halal Bihalal

Halal Bihalal adalah tradisi budaya Indonesia yang biasanya diadakan setelah Hari Raya Idulfitri untuk mempererat silaturahmi, saling memaafkan, dan memperkuat hubungan sosial. Dalam konteks militer, acara ini sering menjadi ajang reuni para purnawirawan untuk berbagi pengalaman, mendiskusikan isu nasional, dan menegaskan komitmen terhadap negara. Acara Halal Bihalal PPAD pada 6 Mei 2025 di Balai Kartini merupakan bagian dari tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh organisasi purnawirawan TNI Angkatan Darat, dengan tujuan memperkuat solidaritas dan mendukung pembangunan nasional.
Menurut Plt. Ketua Umum PPAD, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Komaruddin Simanjuntak, acara ini mengundang lebih dari 1.200 tamu, termasuk 1.004 purnawirawan TNI dan 206 anggota keluarga besar TNI-Polri, serta pejabat tinggi seperti presiden, menteri, gubernur, dan anggota DPR. Acara ini juga menjadi ajang penting bagi Presiden Prabowo, yang memiliki latar belakang militer sebagai mantan Danjen Kopassus, untuk menjalin komunikasi dengan komunitas purnawirawan yang memiliki pengaruh signifikan dalam dinamika politik dan keamanan Indonesia.
Kronologi dan Detail Acara
Kedatangan Prabowo dan Penyambutan

Presiden Prabowo Subianto tiba di Balai Kartini sekitar pukul 16:27 WIB, didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan beberapa anggota Kabinet Merah Putih. Ia mengenakan kemeja safari berwarna krem dengan peci hitam, mencerminkan gaya sederhana namun kharismatik yang sering diasosiasikan dengan latar belakang militernya. Kedatangannya disambut dengan tepuk tangan meriah dari para purnawirawan yang telah menanti di ruangan.
Sebelum menuju meja utama di barisan terdepan, Prabowo menyempatkan diri berkeliling untuk menyalami para purnawirawan dan keluarga besar TNI-Polri yang hadir. Gestur ini menunjukkan pendekatan personal dan hormatnya terhadap komunitas militer, yang menjadi basis dukungan politiknya selama karier. Menurut Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Yusuf Permana, kehadiran Prabowo bertujuan untuk “menjalin dan mempererat tali silaturahmi dengan para purnawirawan,” sejalan dengan semangat Halal Bihalal.
Pengaturan Tempat Duduk dan Momen dengan Try Sutrisno

Salah satu momen yang paling disorot adalah pengaturan tempat duduk, di mana Prabowo duduk semeja dengan Try Sutrisno, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Plt. Ketua Umum PPAD Komaruddin Simanjuntak. Try Sutrisno, yang mengenakan seragam purnawirawan berwarna krem lengkap dengan topi dan pangkat bintang 4, tampak duduk di sisi kanan Prabowo, sementara Sultan Hamengkubuwono X berada di sisi lainnya.
Sebelum menyampaikan pidato, Prabowo menunjukkan gestur hormat kepada Try Sutrisno. Menurut pantauan Kompas.com, setelah mendengarkan laporan dari Komaruddin Simanjuntak, Prabowo berdiri dan memutar badan untuk menghadap Try, memberikan salam hormat yang mencerminkan etika militer dan penghormatan kepada seniornya. Gestur ini dianggap simbolis, mengingat Try Sutrisno adalah tokoh senior yang pernah menjabat sebagai Panglima ABRI (1988–1993) dan Wakil Presiden (1993–1998).
Susunan Acara dan Kehadiran Tokoh Penting

Acara dibuka dengan tausiyah dan doa oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang menyampaikan sejarah tradisi Halal Bihalal sebagai wujud rekonsiliasi dan persaudaraan. Selain Prabowo dan Try Sutrisno, sejumlah tokoh penting hadir, antara lain:
- Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto
- Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo
- Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)
- Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan
- Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Wiranto
- Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono
- Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman
- Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin
- Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas)
- Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Andika Perkasa
- Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian
- Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto
Kehadiran tokoh-tokoh ini menunjukkan pentingnya acara sebagai ajang konsolidasi antara pemerintah, militer aktif, dan purnawirawan, sekaligus mencerminkan pengaruh komunitas TNI-Polri dalam politik nasional.
Pidato Prabowo dan Pesan Silaturahmi
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan pentingnya kontribusi purnawirawan TNI dalam pembangunan nasional. Ia mengajak mereka untuk tetap memberikan wawasan dan keahlian, sambil memastikan bahwa pandangan mereka selaras dengan kepentingan nasional. Menurut laporan Kompas TV, Prabowo juga bernostalgia tentang pengalamannya di TNI, yang memperkuat ikatan emosional dengan audiens. Ia menegaskan bahwa pemerintah menghormati aspirasi purnawirawan, tetapi harus mematuhi batasan kewenangan sesuai prinsip trias politika.
Konteks Politik: Try Sutrisno dan Desakan Pemakzulan Gibran

Momen Prabowo duduk semeja dengan Try Sutrisno menarik perhatian karena latar belakang politik yang sensitif. Try Sutrisno adalah salah satu tokoh dalam Forum Purnawirawan TNI-Polri yang, pada 17 April 2025, mengusulkan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Forum ini, yang juga melibatkan purnawirawan seperti Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi, terdiri dari 103 jenderal, 73 laksamana, 65 marsekal, dan 91 kolonel. Mereka meminta reshuffle kabinet terhadap menteri yang diduga terlibat korupsi dan mengkritik kebijakan pemerintah tertentu.
Usulan ini dipicu oleh sejumlah isu, termasuk mutasi putra Try Sutrisno, Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, yang dibatalkan setelah kontroversi. Try Sutrisno juga sempat menjadi sorotan karena pernyataannya dianggap menentang pemerintahan Prabowo-Gibran, meskipun ia tetap dihormati sebagai tokoh senior. Sementara itu, kelompok lain seperti Persatuan Purnawirawan TNI-Polri, yang melibatkan Wiranto dan Agum Gumelar, menyatakan dukungan penuh terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran, menciptakan polarisasi di kalangan purnawirawan.
Gestur hormat Prabowo kepada Try Sutrisno dan pengaturan tempat duduk mereka dianggap sebagai upaya simbolis untuk meredam ketegangan. Menurut Wiranto, Prabowo menghormati aspirasi purnawirawan, tetapi akan mempelajari usulan mereka dengan hati-hati karena melibatkan isu fundamental yang harus sesuai dengan konstitusi. Komaruddin Simanjuntak juga menegaskan bahwa acara Halal Bihalal tidak membahas isu politik seperti pemakzulan, melainkan fokus pada silaturahmi.
Analisis dan Implikasi
Simbolisme Gestur Prabowo
Gestur hormat Prabowo kepada Try Sutrisno mencerminkan etika militer yang menjunjung senioritas, sekaligus strategi politik untuk menunjukkan sikap inklusif. Dalam konteks ketegangan akibat usulan pemakzulan Gibran, gestur ini dapat diartikan sebagai upaya Prabowo untuk menjaga harmoni dengan kelompok purnawirawan yang kritis, tanpa harus mengakomodasi tuntutan mereka secara langsung. Hal ini sejalan dengan pendekatan Prabowo yang dikenal menghindari konfrontasi terbuka dengan tokoh-tokoh berpengaruh.
Dinamika di Kalangan Purnawirawan
Acara ini menyoroti polarisasi di kalangan purnawirawan TNI-Polri. Di satu sisi, Forum Purnawirawan TNI-Polri yang dipimpin tokoh seperti Try Sutrisno dan Fachrul Razi mengkritik pemerintah, mencerminkan kekhawatiran tentang legitimasi politik dan penegakan hukum. Di sisi lain, Persatuan Purnawirawan TNI-Polri yang didukung Wiranto dan Agum Gumelar menegaskan loyalitas kepada Prabowo-Gibran, menunjukkan dukungan terhadap agenda pembangunan nasional seperti Asta Cita. Polaritas ini mencerminkan tantangan bagi Prabowo dalam menjaga kohesi komunitas militer, yang tetap memiliki pengaruh besar dalam politik Indonesia.
Implikasi Politik
Kehadiran Prabowo di acara ini memperkuat posisinya sebagai pemimpin yang dekat dengan komunitas militer, yang menjadi basis kekuatannya sejak Pilpres 2024. Dengan menghormati Try Sutrisno dan menjalin silaturahmi dengan purnawirawan, Prabowo menunjukkan kemampuan untuk menyeimbangkan antara menghormati aspirasi kritis dan mempertahankan otoritas sebagai presiden. Namun, usulan pemakzulan Gibran tetap menjadi isu sensitif yang dapat memengaruhi stabilitas politik, terutama jika didukung oleh kelompok purnawirawan yang berpengaruh.
Dampak Sosial dan Budaya
Secara sosial, acara ini memperkuat tradisi Halal Bihalal sebagai sarana rekonsiliasi dan solidaritas. Kehadiran tokoh lintas generasi, dari Try Sutrisno hingga AHY, menunjukkan bahwa komunitas TNI-Polri tetap menjadi pilar penting dalam menjaga kebersamaan nasional. Secara budaya, acara ini menegaskan nilai-nilai silaturahmi dan saling menghormati, yang menjadi ciri khas Indonesia pasca-Idulfitri.
Penelitian dan Data Pendukung
- Kompas.com (6 Mei 2025): Melaporkan bahwa Prabowo duduk semeja dengan Try Sutrisno dan menunjukkan gestur hormat sebelum berpidato, di tengah desakan pemakzulan Gibran.
- Liputan6.com (6 Mei 2025): Mencatat kehadiran 1.200 tamu, termasuk tokoh seperti Luhut Binsar Pandjaitan dan AM Hendropriyono, serta kedatangan Prabowo pukul 16:27 WIB.
- Antara News (6 Mei 2025): Menyebutkan bahwa acara dibuka dengan tausiyah oleh Nasaruddin Umar dan fokus pada silaturahmi, bukan isu politik.
- Tempo.co (6 Mei 2025): Mengonfirmasi bahwa PPAD tidak membahas isu di luar TNI, seperti pemakzulan, dalam acara ini.
- IDN Times (2 Mei 2025): Melaporkan bahwa PPAD telah mengundang Prabowo sejak sebulan sebelum acara untuk memastikan kehadirannya.
Kesimpulan
Acara Halal Bihalal Purnawirawan TNI AD dan Keluarga Besar TNI-Polri di Balai Kartini pada 6 Mei 2025 menjadi momen penting bagi Presiden Prabowo Subianto untuk mempererat silaturahmi dengan komunitas militer. Duduk semeja dengan Try Sutrisno, yang merupakan tokoh kritis dalam usulan pemakzulan Gibran, serta gestur hormatnya, menunjukkan pendekatan inklusif dan strategis dalam menavigasi dinamika politik. Acara ini tidak hanya memperkuat solidaritas di kalangan purnawirawan, tetapi juga mencerminkan tantangan Prabowo dalam menjaga kohesi di tengah polarisasi aspirasi purnawirawan.
Secara keseluruhan, kehadiran Prabowo di acara ini mempertegas perannya sebagai pemimpin yang menghormati tradisi militer dan budaya silaturahmi, sambil tetap waspada terhadap isu-isu politik yang sensitif. Untuk menjaga stabilitas, pemerintah perlu terus membuka dialog dengan purnawirawan, memastikan aspirasi mereka didengar tanpa mengganggu prinsip trias politika dan konstitusi.
Rekomendasi:
- Pemerintah: Lanjutkan dialog dengan purnawirawan melalui forum resmi untuk menampung aspirasi dan mencegah polarisasi.
- PPAD dan Purnawirawan: Pertahankan netralitas sesuai AD/ART organisasi, sambil tetap berkontribusi pada pembangunan nasional.
- Masyarakat: Dukung tradisi silaturahmi seperti Halal Bihalal untuk memperkuat kohesi sosial di tengah dinamika politik.
- Media: Laporkan isu purnawirawan dengan objektif untuk menghindari spekulasi yang dapat memicu ketegangan.
BACA JUGA: Riset Deskriptif: Pengertian, Metodologi, dan Aplikasi
BACA JUGA: Politik dan Analisis Ekonomi Negara Malta