Harga Ayam dan Sayur Naik Usai Program MBG Kembali Berjalan, Permintaan Meningkat di Sejumlah Daerah

Harga Ayam dan Sayur

choleray Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan seiring dimulainya tahun ajaran baru di berbagai daerah. Bersamaan dengan meningkatnya aktivitas sekolah, permintaan terhadap berbagai bahan pangan utama seperti ayam, telur, dan sayuran mulai mengalami kenaikan yang membuat harga Ayam dan Sayur Naik.

Kondisi tersebut mulai terlihat di sejumlah sentra produksi maupun pasar tradisional. Pedagang mengaku permintaan meningkat dibandingkan beberapa pekan sebelumnya, sementara peternak dan petani mulai merasakan perbaikan harga setelah sempat mengalami tekanan selama masa libur sekolah dan berkurangnya penyaluran Program MBG.

Kenaikan harga ayam dan sayur ini menjadi konsekuensi dari bertambahnya kebutuhan bahan baku untuk jutaan porsi makanan yang disiapkan setiap hari melalui Program MBG. Ketika permintaan meningkat dalam waktu relatif singkat, harga sejumlah komoditas pun mulai bergerak naik.

Meski demikian, pemerintah menilai kenaikan tersebut masih berada dalam batas yang wajar dan justru menjadi kabar baik bagi peternak yang sebelumnya menjual hasil produksinya di bawah harga acuan pemerintah.

Harga Ayam dan sayur Mulai Merangkak Naik

Salah satu komoditas yang paling cepat merespons meningkatnya permintaan adalah ayam broiler.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengatakan Program MBG mulai memberikan dampak positif terhadap harga ayam hidup di tingkat peternak.

Berdasarkan data Panel Harga Bapanas per 14 Juli 2026, rata-rata harga ayam broiler di tingkat peternak mencapai Rp21.736 per kilogram, naik sekitar 4,11 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang berada di kisaran Rp20.878 per kilogram.

Meski mengalami kenaikan, harga tersebut masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp25.000 per kilogram di tingkat produsen.

Artinya, ruang kenaikan harga masih terbuka apabila permintaan terus meningkat dalam beberapa pekan mendatang.

Di sejumlah daerah, kondisi harga juga masih berbeda-beda. Sumatera Selatan misalnya masih mencatat harga ayam hidup sekitar Rp18.125 per kilogram, sedangkan di Riau harga sudah mencapai Rp25.600 per kilogram atau bahkan melampaui HAP pemerintah.

Perbedaan tersebut menunjukkan distribusi permintaan dan pasokan belum merata di seluruh Indonesia.

Sayuran Ikut Mengalami Kenaikan

Tidak hanya ayam, berbagai jenis sayuran juga mulai mengalami kenaikan harga ayam dan sayur.

Di Pasar Sayur Magetan, Jawa Timur, pedagang melaporkan harga ayam dan sayur beberapa komoditas hortikultura naik setelah Program MBG kembali berjalan. Permintaan dari penyedia bahan makanan untuk dapur MBG meningkat sehingga stok di pasar menjadi lebih cepat terserap.

Komoditas seperti wortel, kubis, buncis, sawi, hingga berbagai sayuran hijau mulai mengalami penyesuaian harga.

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mengurangi jumlah belanja harian agar pengeluaran tetap terkendali.

Bagi pedagang, kenaikan harga ayam dan sayur sebenarnya tidak selalu berarti keuntungan yang lebih besar. Mereka juga harus membeli barang dengan harga lebih tinggi dari pemasok sehingga margin keuntungan tidak banyak berubah.

Namun bagi petani, meningkatnya permintaan menjadi sinyal positif setelah sebelumnya sejumlah komoditas hortikultura mengalami tekanan akibat pasokan melimpah dan konsumsi yang belum optimal.

Mengapa MBG Mempengaruhi Harga Pangan? Program MBG merupakan salah satu program pemerintah dengan skala konsumsi yang sangat besar.

Setiap hari jutaan porsi makanan disiapkan untuk siswa di berbagai daerah. Dalam setiap menu dibutuhkan bahan pangan seperti ayam, telur, sayuran, beras, buah, dan berbagai bumbu dapur.

Ketika program berjalan penuh, kebutuhan terhadap bahan baku otomatis meningkat secara signifikan.

Permintaan yang naik dalam waktu bersamaan akan memengaruhi mekanisme pasar.

Apabila pasokan belum bertambah dalam jumlah yang sama, harga ayam dan sayur cenderung mengalami kenaikan.

Fenomena tersebut merupakan prinsip dasar ekonomi, yaitu ketika permintaan meningkat lebih cepat dibandingkan pasokan, harga akan bergerak naik.

Karena itu, naiknya harga ayam dan sayur tidak sepenuhnya disebabkan oleh MBG saja.

Faktor lain seperti musim panen, cuaca, biaya distribusi, dan kondisi produksi di tingkat petani maupun peternak juga ikut memengaruhi harga.

Faktor Musiman Ikut Berpengaruh

Bapanas menjelaskan bahwa kenaikan harga ayam dan sayur tidak hanya dipicu oleh Program MBG.

Menurut Ketut Astawa, harga ayam sebelumnya mengalami penurunan karena bertepatan dengan bulan Suro, ketika aktivitas masyarakat seperti pesta pernikahan dan hajatan cenderung berkurang.

Akibatnya, permintaan terhadap ayam dan telur ikut melemah sehingga harga ayam dan sayur di tingkat peternak mengalami koreksi.

Kini, setelah periode tersebut berlalu dan sekolah kembali aktif, permintaan meningkat dari dua sisi sekaligus, yakni konsumsi masyarakat dan kebutuhan Program MBG.

Kombinasi kedua faktor itulah yang membuat harga mulai bergerak naik.

Pemerintah optimistis tren tersebut dapat membantu memperbaiki kesejahteraan peternak yang dalam beberapa bulan terakhir menghadapi harga jual yang rendah.

Peternak Menyambut Positif

Bagi peternak ayam dan telur, naiknya harga justru menjadi kabar yang telah lama dinantikan.

Selama beberapa pekan terakhir, banyak peternak mengeluhkan harga jual yang belum mampu menutupi biaya produksi, terutama harga pakan yang masih relatif tinggi.

Dengan meningkatnya penyerapan melalui Program MBG, mereka berharap harga dapat kembali mendekati HAP sehingga usaha peternakan menjadi lebih sehat.

Pemerintah sendiri memastikan kebutuhan ayam dan telur untuk MBG akan diprioritaskan berasal dari peternak lokal.

Langkah tersebut diharapkan mampu memberikan efek berganda bagi sektor peternakan nasional sekaligus menjaga rantai pasok pangan tetap berjalan.

Selain ayam, kebutuhan telur juga diperkirakan terus meningkat karena menjadi salah satu sumber protein utama dalam menu MBG.

Masyarakat Mulai Menyesuaikan Belanja

Di sisi lain, kenaikan harga mulai dirasakan oleh konsumen.

Sejumlah pembeli di pasar tradisional mengaku harus lebih selektif dalam menentukan jumlah belanja harian.

Sebagian memilih mengurangi pembelian ayam atau mengganti jenis sayuran yang harganya lebih murah.

Pedagang juga mulai melihat perubahan perilaku konsumen. Pembelian dalam jumlah besar cenderung berkurang, sementara masyarakat lebih banyak membeli sesuai kebutuhan harian.

Meski begitu, kenaikan harga sejauh ini belum tergolong ekstrem.

Sebagian besar pedagang menilai kondisi masih berada dalam batas normal karena permintaan memang sedang meningkat setelah aktivitas sekolah kembali berjalan.

Pemerintah Berupaya Menjaga Keseimbangan Harga

Pemerintah menyadari bahwa meningkatnya permintaan melalui Program MBG dapat memengaruhi pasar.

Karena itu, Bapanas bersama Kementerian Pertanian terus memantau perkembangan harga di tingkat petani, peternak, maupun konsumen.

Pemerintah juga memetakan daerah surplus dan daerah defisit agar distribusi bahan pangan untuk MBG dapat lebih efisien.

Dengan memanfaatkan produksi lokal di setiap wilayah, kebutuhan program diharapkan tidak menimbulkan gangguan besar terhadap pasokan pasar umum.

Selain itu, pemerintah menggandeng Satgas Pangan untuk mengawal implementasi Harga Acuan Pembelian sehingga peternak memperoleh harga yang layak tanpa membuat harga di tingkat konsumen melonjak terlalu tinggi.

Program sebesar MBG membutuhkan rantai pasok yang sangat kuat.

Jika jumlah penerima manfaat terus bertambah, kebutuhan bahan pangan juga akan meningkat setiap hari.

Karena itu, peningkatan produksi menjadi salah satu tantangan utama.

Petani harus mampu menjaga pasokan sayuran tetap stabil, sementara peternak perlu meningkatkan produksi ayam dan telur tanpa mengorbankan kualitas.

Pemerintah juga perlu memastikan distribusi berjalan lancar sehingga tidak terjadi kekurangan pasokan di daerah tertentu.

Apabila koordinasi berjalan baik, meningkatnya permintaan dari Program MBG justru dapat menjadi peluang untuk memperkuat sektor pertanian dan peternakan nasional.

Kenaikan Harga Jadi Sinyal Permintaan Mulai Pulih

Naiknya harga ayam dan sayur setelah Program MBG kembali berjalan menunjukkan aktivitas ekonomi di sektor pangan mulai bergerak lebih dinamis.

Bagi peternak dan petani, kondisi ini menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan setelah sempat menghadapi lemahnya permintaan.

Di sisi lain, pemerintah tetap memiliki pekerjaan besar untuk menjaga agar kenaikan harga ayam dan sayur tidak membebani masyarakat secara berlebihan.

Keseimbangan antara kesejahteraan produsen dan keterjangkauan harga ayam dan sayur bagi konsumen menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan Program MBG.

Selama pasokan mampu mengikuti peningkatan permintaan, harga diperkirakan akan kembali stabil.

Namun apabila produksi tidak bertambah sesuai kebutuhan, bukan tidak mungkin harga beberapa komoditas pangan akan terus mengalami penyesuaian dalam beberapa waktu ke depan.

Referensi

  • Kontan – Harga Ayam dan Telur Mulai Naik, Program MBG Dorong Permintaan Peternak.
  • Republika – Harga Ayam dan Telur Mulai Naik, Bapanas Sebut Program MBG Mulai Berdampak.
  • Rakyat Merdeka – MBG Kembali Bergulir, Harga Ayam dan Telur Membaik.
  • Merdeka.com – Program MBG Kembali Berjalan, Peternak Ayam dan Telur Semringah.
  • Espos.id – Program MBG Kembali Berjalan, Harga Sayur dan Ayam di Magetan Naik.
Share via
Copy link