Ade Armando: Jokowi sebagai Sosok yang Menenteramkan Hati PSI di Tengah Konflik dengan PDI-P

Ade Armando: Jokowi sebagai Sosok yang Menenteramkan Hati PSI di Tengah Konflik dengan PDI-P

choleray.com, 21 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Dalam dinamika politik Indonesia pasca-Pemilu 2024, hubungan antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menjadi sorotan, terutama terkait peran mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ade Armando, seorang politikus dan anggota DPR dari PSI, menggambarkan Jokowi sebagai sosok yang menenteramkan hati bagi PSI, terutama ketika PDI-P menganggap kehadiran Jokowi sebagai gangguan politik. Artikel ini akan membahas secara mendalam pernyataan Ade Armando, latar belakang konflik antara PSI dan PDI-P, peran Jokowi dalam dinamika ini, serta implikasi politiknya pada tahun 2025.

Latar Belakang Konflik PSI dan PDI-P

Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang didirikan pada 16 November 2014, adalah partai politik yang mengusung semangat solidaritas nasional dan reformasi demokratis. PSI dikenal sebagai partai yang mewakili kalangan muda dan sering kali mengambil sikap progresif dalam isu-isu seperti anti-korupsi dan keberagaman. Sejak awal, PSI menunjukkan dukungan kuat terhadap Jokowi, terutama selama masa kepresidenannya (2014-2024), dengan menjadi bagian dari koalisi pendukungnya dalam Pemilu 2019. Namun, hubungan PSI dengan PDI-P, partai yang juga mendukung Jokowi selama dua periode kepresidenannya, tidak selalu harmonis.

PDI-P, sebagai partai politik terbesar di Indonesia dengan elektabilitas tertinggi (25,2% pada survei Indikator Politik Oktober 2023), memiliki sejarah panjang sebagai pendukung Jokowi. Namun, hubungan antara Jokowi dan PDI-P mulai merenggang menjelang akhir masa jabatannya, terutama setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa Pilpres 2024 dan dukungan Jokowi terhadap pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. PDI-P, melalui pernyataan Komarudin Watubun, menyatakan bahwa Jokowi dan putranya, Gibran, sudah tidak lagi dianggap sebagai bagian dari partai karena dianggap berpindah ke kubu lain (Prabowo).

Konflik ini memuncak ketika PSI, yang dipimpin oleh Kaesang Pangarep, anak bungsu Jokowi, secara terbuka menggaungkan slogan “Ikut Jokowi Pilih PSI.” PSI memanfaatkan popularitas Jokowi, yang masih memiliki tingkat kepuasan publik di atas 65% di Pulau Jawa berdasarkan survei LSI, untuk meningkatkan elektabilitas partai yang saat itu hanya mencapai 2,1%. PDI-P menganggap manuver PSI, termasuk keterlibatan Jokowi dan Kaesang, sebagai gangguan terhadap hegemoni politik mereka, terutama karena PSI mulai menarik perhatian sebagai partai yang mendompleng pengaruh Jokowi.

Pernyataan Ade Armando

Ade Armando, seorang akademisi dan politikus PSI yang dikenal vokal, menyampaikan pernyataan bahwa Jokowi adalah sosok yang “menenteramkan hati” bagi PSI di tengah pandangan PDI-P yang menganggap Jokowi sebagai gangguan. Pernyataan ini merujuk pada peran Jokowi sebagai tokoh nasional yang tetap dihormati dan memiliki pengaruh besar, meskipun masa kepresidenannya telah berakhir pada Oktober 2024. Menurut Ade, dukungan PSI terhadap Jokowi adalah bagian dari budaya politik yang sehat, di mana menghormati mantan presiden merupakan tradisi demokrasi.

Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Wakil Ketua Umum DPP PSI, Andy Budiman, yang pada 18 April 2025 menyatakan bahwa kunjungan menteri atau pejabat kepada Jokowi, terutama dalam suasana Idul Fitri, adalah bentuk penghormatan. Andy menegaskan bahwa Jokowi bukan bagian dari oposisi, melainkan tokoh yang mendukung pemerintahan saat ini di bawah Presiden Prabowo Subianto. Ade Armando menambahkan bahwa PSI melihat Jokowi sebagai simbol stabilitas dan solidaritas, nilai yang menjadi inti ideologi partai.

Ade Armando juga menyinggung ketegangan dengan PDI-P, merujuk pada pernyataan PDI-P yang menyebut Jokowi dan Gibran sudah “berpindah kubu.” Menurut Ade, pandangan ini mencerminkan sikap politik pecah belah yang tidak sehat, sementara PSI berupaya mempromosikan kerja sama lintas partai. Ia menekankan bahwa Jokowi tetap menjadi figur yang menenteramkan bagi PSI karena rekam jejaknya dalam pembangunan infrastruktur, bantuan sosial untuk rakyat kecil, dan kepemimpinan yang dianggap sukses selama dua periode.

Peran Jokowi dalam Dinamika Politik PSI

Jokowi, yang menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia selama dua periode (2014-2024), memiliki pengaruh politik yang signifikan bahkan setelah lengser. Popularitasnya, yang didukung oleh lebih dari 65% responden di Pulau Jawa menurut survei LSI, membuatnya menjadi aset politik yang strategis bagi PSI. Berikut adalah beberapa aspek peran Jokowi dalam konteks PSI:

  1. Dukungan Simbolis
    PSI memanfaatkan citra Jokowi sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat untuk memperkuat basis elektoral mereka, terutama di kalangan pemilih muda dan perkotaan. Slogan “Ikut Jokowi Pilih PSI” yang digaungkan oleh tokoh seperti Isyana Bagoes Oka menunjukkan bahwa PSI memposisikan diri sebagai penerus visi Jokowi dalam pembangunan dan reformasi.
  2. Keterlibatan Kaesang Pangarep
    Penunjukan Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI pada 2023 menjadi titik balik strategis. Dalam hitungan jam, Kaesang menggantikan Giring Ganesha sebagai ketua umum, sebuah langkah yang dianggap sebagai bagian dari strategi Jokowi untuk memperkuat pengaruh politiknya melalui PSI. Keterlibatan Kaesang memberikan PSI akses langsung ke jaringan relawan Jokowi, yang sebelumnya mendukungnya di PDI-P.
  3. Kontrast dengan PDI-P
    PDI-P, yang awalnya menjadi rumah politik Jokowi, mulai menjauh darinya setelah Pilpres 2024. Pernyataan Komarudin Watubun bahwa Jokowi “sudah di sebelah sana” (kubu Prabowo) mencerminkan keretakan hubungan. Sebaliknya, PSI secara terbuka menyatakan dukungan penuh kepada Jokowi, menjadikannya sebagai simbol solidaritas dan stabilitas.
  4. Pembangunan Politik yang Inklusif
    Ade Armando dan PSI menekankan bahwa Jokowi mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran, bukan menjadi bagian dari oposisi. Hal ini sejalan dengan visi PSI untuk menghindari politik pecah belah dan mempromosikan kerja sama lintas partai, sebagaimana disampaikan Andy Budiman.

Kritik dan Kontroversi

Pernyataan Ade Armando dan sikap PSI memicu berbagai tanggapan, baik positif maupun negatif:

  1. Kritik dari PDI-P
    PDI-P, melalui tokoh seperti Chico Hakim, menganggap PSI sebagai “anomali” dalam politik Indonesia karena lonjakan suaranya yang dianggap tidak wajar pada Pemilu 2024 (meningkat 0,6% menurut Tempo). PDI-P juga memandang dukungan PSI terhadap Jokowi sebagai upaya mendompleng popularitas untuk kepentingan elektoral, bukan semata-mata penghormatan.
  2. Pandangan Publik
    Sebagian masyarakat melihat PSI sebagai partai oportunis yang memanfaatkan nama Jokowi untuk menarik suara, terutama setelah keterlibatan Kaesang. Namun, pendukung PSI berpendapat bahwa partai ini membawa wacana politik yang segar dan progresif, terutama dalam isu anti-korupsi dan keberagaman.
  3. Kontroversi Sejarah PSI
    Nama PSI sering disamakan dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI) era 1948-1960 yang berideologi sosialisme. Grace Natalie menegaskan bahwa PSI modern berbasis solidaritas, bukan sosialisme, namun hal ini tetap memicu perdebatan tentang identitas ideologis partai.

Implikasi Politik pada 2025

Pernyataan Ade Armando dan posisi PSI memiliki beberapa implikasi politik pada tahun 2025:

  • Peningkatan Elektabilitas PSI: Dengan memanfaatkan popularitas Jokowi dan keterlibatan Kaesang, PSI berpotensi meningkatkan elektabilitasnya di pemilu berikutnya, terutama di daerah urban seperti Jakarta dan Jawa Tengah.
  • Polarisasi dengan PDI-P: Ketegangan antara PSI dan PDI-P dapat memperdalam polarisasi politik, terutama jika PDI-P terus memandang Jokowi sebagai ancaman terhadap hegemoni mereka.
  • Pemantapan Pemerintahan Prabowo-Gibran: Dukungan PSI terhadap Jokowi dan pemerintahan baru menunjukkan peran partai ini sebagai pendukung koalisi pemerintah, yang dapat memperkuat stabilitas politik.
  • Pergeseran Basis Pemilih: PSI berpotensi menarik pemilih muda dan mantan pendukung Jokowi yang kecewa dengan PDI-P, memperluas basis elektoral mereka.

Kesimpulan

Pernyataan Ade Armando bahwa Jokowi adalah sosok yang menenteramkan hati PSI mencerminkan strategi partai untuk memanfaatkan popularitas dan pengaruh mantan presiden dalam menghadapi dinamika politik dengan PDI-P. Di tengah pandangan PDI-P yang menganggap Jokowi sebagai gangguan, PSI memposisikan diri sebagai pendukung setia Jokowi, menjadikannya simbol solidaritas dan stabilitas. Dengan keterlibatan Kaesang Pangarep dan fokus pada nilai-nilai reformasi, PSI berupaya memperkuat posisinya sebagai kekuatan politik baru yang relevan. Namun, tantangan seperti kritik dari PDI-P dan persepsi oportunisme tetap menjadi hambatan. Pada tahun 2025, dinamika ini akan terus memengaruhi lanskap politik Indonesia, dengan PSI berpotensi memainkan peran penting dalam mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran sambil menjaga visi solidaritas nasional.


BACA JUGA: Politik dan Analisis Ekonomi Sao Tome dan Principe: Stabilitas Politik dan Tantangan Ekonomi di Negara Kepulauan Kecil

BACA JUGA: Panduan Lengkap Travelling ke Sao Tome dan Principe: Menjelajahi Galapagos Afrika

BACA JUGA: Lingkungan, Sumber Daya Alam, dan Penduduk Sao Tome dan Principe: Tantangan dan Peluang di Galapagos Afrika



Share via
Copy link