choleray.com, 28 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88
Pada rabu, 28 Mei 2025, sebuah insiden kebakaran disertai ledakan dahsyat mengguncang Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Nomor 44.552.14 di Jalan Letjen Suprapto, Pringgokusuman, Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Kejadian yang terjadi sekitar pukul 13.00 WIB ini menyebabkan kepanikan di kalangan warga yang sedang mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM), dengan beberapa orang dilaporkan terpental hingga 10 meter akibat kekuatan ledakan. Insiden ini menewaskan delapan orang yang mengalami luka-luka, merusak fasilitas SPBU, dan menyebabkan kerusakan pada bangunan di sekitar lokasi. Artikel ini akan menguraikan kronologi kejadian, penyebab dugaan, dampak, serta langkah-langkah penanganan yang dilakukan oleh pihak berwenang dan Pertamina.
Kronologi Kejadian

Insiden bermula pada pukul 12.45 WIB, ketika sebuah truk tangki BBM melakukan pengisian bahan bakar ke tangki penampungan SPBU. Proses pengisian selesai sekitar pukul 13.00 WIB, dan truk tangki meninggalkan lokasi. Tidak lama setelah itu, sekitar pukul 13.11–13.15 WIB, sebuah ledakan besar terjadi, diikuti oleh kobaran api yang membesar dengan cepat. Ledakan ini diduga berasal dari tangki penyimpanan BBM di bagian timur SPBU, tepatnya di area tangki penampungan bahan bakar jenis Pertalite.
Menurut saksi mata, Rizal, Ketua RW 3 Pringgokusuman, ledakan terjadi secara tiba-tiba saat ia berada di sebuah angkringan di dekat lokasi. “Sekitar pukul 13.00 WIB ada suara ledakan, tiba-tiba meledak. Apinya sempat besar, apar itu gak bisa mengendalikan,” ujarnya. Salah seorang warga yang sedang mengantre mengisi BBM, Arafat dari Sosrowijayan, menggambarkan kepanikan saat ledakan terjadi. Ia mengaku terpental sejauh 5–10 meter akibat kekuatan ledakan. “Antri di row 2 langsung besar, ledakan besar. Bangunan rubuh. Langsung lari motor masih di dalam,” katanya. Ia juga menyebut bahwa helm yang ia kenakan menyelamatkannya dari luka bakar yang lebih serius. “Pegawai sini terbakar rambutnya, dibawa ke puskesmas. Untung pakai helm, kalau nggak ya kebakar saya,” tambahnya.
Kobaran api yang muncul setelah ledakan menyebabkan sebagian area SPBU terbakar, termasuk dispenser Pertalite yang sedang dalam proses perbaikan oleh teknisi. Ledakan tersebut juga merusak fasilitas di sekitar SPBU, seperti kaca jendela lima rumah warga dan jendela Hotel Shafira yang berada di dekat lokasi. Suara ledakan terdengar hingga ke perkampungan sekitar, membuat warga berhamburan keluar rumah karena mengira ledakan berasal dari sumber lain, seperti penampungan air hotel.
Penyebab Dugaan Ledakan dan Kebakaran

Menurut pernyataan resmi dari Plt. Kasihumas Polresta Yogyakarta, IPTU Gandung Harjunadi, ledakan diduga berasal dari tangki penyimpanan BBM milik SPBU, yang terjadi tak lama setelah proses pengisian BBM oleh truk tangki. “Ledakan diduga berasal dari tangki penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) milik SPBU tersebut,” ujarnya. Namun, penyebab pasti ledakan masih dalam penyelidikan oleh Tim Inafis Polresta Yogyakarta.
Pihak Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, melalui Area Manager Communication, Relations, & CSR, Taufiq Kurniawan, memberikan penjelasan bahwa kebakaran diawali oleh percikan api yang muncul saat teknisi melakukan perbaikan pada dispenser Pertalite. “Sedang dilakukan perbaikan dispenser Pertalite oleh teknisi. Dispenser itu stop operasi dan dalam proses diperbaiki. Namun saat proses perbaikan oleh teknisi, muncul percikan api di pulau pompa itu, sehingga memicu ledakan dan kebakaran,” ungkap Taufiq.
Meskipun demikian, ada indikasi bahwa insiden ini terkait dengan masalah teknis pada tangki penyimpanan BBM, yang mungkin dipicu oleh uap bahan bakar yang terakumulasi selama proses pengisian. Insiden serupa pernah terjadi di SPBU yang sama kurang dari sebulan sebelumnya, tepatnya di bagian dispenser sebelah barat. Rizal, Ketua RW setempat, menyatakan bahwa kebakaran sebelumnya juga disertai ledakan, menunjukkan adanya masalah berulang pada keamanan operasional SPBU tersebut.
Dampak Insiden

Insiden kebakaran dan ledakan ini menyebabkan dampak signifikan, baik dari segi korban, kerusakan material, maupun dampak sosial di lingkungan sekitar.
- Korban Luka
Setidaknya delapan orang mengalami luka-luka akibat insiden ini. Menurut Krismatriantoko dari Public Safety Center (PSC) 119 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), satu korban ditangani di lokasi, satu korban dirujuk ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah karena mengalami luka bakar derajat satu hingga dua, dan enam lainnya dibawa ke Puskesmas Gedongtengen untuk perawatan. Kepala Puskesmas Gedongtengen, Tri Kusuma Bawono, menjelaskan bahwa sebagian besar korban mengalami luka ringan akibat serpihan material, tetapi dua korban, termasuk seorang karyawan SPBU, mengalami luka bakar cukup serius.Beberapa korban yang diidentifikasi meliputi:- Ardian Wahyu Atmaja (sekuriti SPBU): Luka lecet pada lengan tangan kanan dan kiri.
- Sujani (pembeli BBM): Mengalami mual dan syok akibat ledakan.
- Titik Riyanti (warga): Luka pada kaki akibat terkena pecahan kaca, serta luka lecet pada kaki dan lengan.
- Kerusakan Material
Ledakan menyebabkan kerusakan pada fasilitas SPBU, termasuk dispenser Pertalite dan sebagian bangunan. Selain itu, lima rumah warga di sekitar lokasi mengalami kerusakan pada jendela kaca, dan jendela kaca Hotel Shafira juga pecah akibat getaran ledakan. Kerugian material belum diestimasi secara pasti, tetapi dampaknya signifikan terhadap operasional SPBU dan lingkungan sekitar. - Dampak Sosial dan Lalu Lintas
Ledakan dan kebakaran menyebabkan kepanikan di kalangan warga, terutama karena suara ledakan terdengar hingga ke perkampungan sekitar. Arus lalu lintas di Jalan Letjen Suprapto terganggu selama proses pemadaman, yang berlangsung selama sekitar 30 menit. Warga di sekitar lokasi, seperti yang disampaikan oleh Slamet Puji Lestari, awalnya tidak menyadari bahwa ledakan berasal dari SPBU, sehingga menimbulkan kebingungan dan ketakutan.
Upaya Penanganan

Pihak SPBU segera mengambil tindakan awal dengan menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) untuk mengendalikan kobaran api, tetapi upaya ini tidak berhasil karena api terlalu besar. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Yogyakarta mengerahkan 15 personel dari Mako Induk dan Pos Mojosongo, dibantu oleh 10 relawan pemadam kebakaran. Proses pemadaman selesai sekitar pukul 13.24 WIB, hanya 13 menit setelah ledakan terjadi, menunjukkan respons yang cepat dari tim Damkarmat.
Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah mengumumkan bahwa SPBU Gedongtengen ditutup sementara untuk pembersihan, perbaikan fasilitas, dan pengecekan keselamatan sebelum dapat beroperasi kembali. Taufiq Kurniawan memastikan bahwa BBM pada tangki timbun SPBU dalam kondisi aman dan tidak terbakar, sehingga risiko kebakaran lanjutan dapat diminimalisasi.
Tim Inafis Polresta Yogyakarta dikerahkan untuk menyelidiki penyebab pasti ledakan, dengan fokus pada kemungkinan adanya masalah teknis pada tangki penyimpanan atau dispenser Pertalite. Polisi juga memeriksa prosedur pengisian BBM dan perbaikan dispenser untuk mengidentifikasi potensi kelalaian atau kegagalan peralatan.
Sejarah Insiden Serupa di SPBU Gedongtengen

Insiden ini bukanlah kebakaran pertama di SPBU Jalan Letjen Suprapto. Menurut Rizal, Ketua RW 3 Pringgokusuman, kejadian serupa terjadi kurang dari sebulan sebelumnya, tepatnya di bagian dispenser sebelah barat. “Kurang lebih satu bulan lalu juga pernah meledak, itu di sebelah barat, sekarang tangki di timur,” ujarnya. Kejadian berulang ini menimbulkan kekhawatiran warga tentang keamanan operasional SPBU tersebut, terutama karena kedua insiden disertai ledakan yang membahayakan.
Warga setempat, termasuk Rizal, menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan SPBU, termasuk pemeliharaan tangki penyimpanan dan dispenser. Insiden berulang ini juga memunculkan pertanyaan tentang pengawasan dari pihak Pertamina dan kepatuhan terhadap standar operasional keselamatan.
Konteks Kebakaran SPBU di Indonesia
Kebakaran SPBU bukanlah insiden yang terisolasi di Indonesia. Beberapa insiden serupa telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, dengan berbagai penyebab:
- Sukoharjo, Januari 2025: Sebuah mobil Mitsubishi L300 terbakar saat mengisi Pertalite di SPBU Cuplik, Sukoharjo, Jawa Tengah, diduga karena adanya tangki tambahan berisi BBM di dalam mobil.
- Jambi, April 2025: Kebakaran di SPBU Simpang Kawat, Jelutung, Kota Jambi, terjadi dengan ledakan di nozzle pengisian Pertalite, menyebabkan satu mobil terbakar.
- Subulussalam, Oktober 2024: SPBU di Jalan Teuku Umar, Kota Subulussalam, Aceh, terbakar dengan kobaran api besar, meskipun penyebabnya belum diketahui pasti.
- Grobogan, Mei 2020: Ledakan dan kebakaran terjadi saat sopir truk tangki BBM memeriksa tangki dengan dipstick, yang tidak sengaja menyenggol kabel listrik dan memicu percikan api.
Insiden-insiden ini menunjukkan bahwa kebakaran SPBU sering kali dipicu oleh faktor seperti kegagalan peralatan, kelalaian manusia, atau pelanggaran prosedur keselamatan, seperti pengisian BBM dengan mesin kendaraan menyala atau penggunaan ponsel di area pengisian.
Tantangan dan Rekomendasi
Insiden di SPBU Gedongtengen menyoroti beberapa tantangan dalam pengelolaan SPBU:
- Keamanan Operasional: Kebakaran berulang di SPBU yang sama menunjukkan perlunya audit keselamatan yang lebih ketat, termasuk pemeriksaan rutin terhadap tangki penyimpanan dan dispenser.
- Pelatihan Personel: Karyawan SPBU perlu dilatih secara berkala tentang prosedur keselamatan, termasuk penanganan keadaan darurat dan penggunaan APAR.
- Pengawasan Publik: Warga sekitar SPBU, yang tinggal di permukiman padat seperti Pringgokusuman, perlu dilibatkan dalam edukasi keselamatan untuk meminimalkan risiko dampak insiden.
- Koordinasi Antarinstansi: Penyelidikan penyebab ledakan memerlukan kerja sama antara Pertamina, kepolisian, dan Dinas Pemadam Kebakaran untuk memastikan tindakan pencegahan yang efektif.
Rekomendasi untuk mencegah insiden serupa meliputi:
- Pemeriksaan Rutin Fasilitas: Pertamina harus meningkatkan frekuensi inspeksi terhadap tangki penyimpanan dan dispenser untuk mendeteksi potensi kebocoran atau kerusakan.
- Peningkatan Sistem Keamanan: Pemasangan sensor uap BBM dan sistem pemadam otomatis dapat mengurangi risiko ledakan.
- Edukasi Masyarakat: Kampanye keselamatan di SPBU, seperti larangan menggunakan ponsel atau menyalakan mesin kendaraan saat pengisian BBM, perlu diperkuat.
- Sanksi untuk Pelanggaran: SPBU yang tidak mematuhi standar keselamatan harus dikenakan sanksi tegas, seperti yang pernah diterapkan pada SPBU di Gunungkidul karena pelanggaran distribusi BBM subsidi.
Kesimpulan
Kebakaran disertai ledakan di SPBU Jalan Letjen Suprapto, Gedongtengen, Yogyakarta, pada 27 Mei 2025, merupakan insiden serius yang menyebabkan delapan orang luka-luka, kerusakan material, dan kepanikan warga. Diduga dipicu oleh percikan api saat perbaikan dispenser Pertalite, insiden ini menyoroti kelemahan dalam pengelolaan keselamatan SPBU, terutama karena kejadian serupa terjadi di lokasi yang sama kurang dari sebulan sebelumnya. Respons cepat dari tim pemadam kebakaran dan penanganan medis berhasil meminimalkan dampak, tetapi insiden ini menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional dan pengawasan SPBU.
Pihak Pertamina dan berwenang sedang menyelidiki penyebab pasti ledakan, dengan fokus pada tangki penyimpanan dan proses perbaikan dispenser. Kejadian ini menjadi pengingat penting akan risiko yang melekat pada pengelolaan BBM dan perlunya langkah proaktif untuk memastikan keselamatan masyarakat. Dengan penerapan rekomendasi seperti pemeriksaan rutin, pelatihan personel, dan edukasi publik, insiden serupa di masa depan dapat dicegah, sehingga SPBU dapat beroperasi dengan aman dan memberikan pelayanan yang terpercaya bagi masyarakat.
BACA JUGA: Perkembangan Teknologi Militer Turki: Dari Modernisasi hingga Kemandirian Strategis
BACA JUGA: Perjalanan Karier Hingga Debut Besar BTS (Bangtan Sonyeondan): Dari Agensi Kecil Menuju Ikon Global
BACA JUGA: Perjalanan Karier Hingga Debut Besar Johnny Depp: Dari Musisi Amatir Menuju Ikon Hollywood