Ringkasan Cepat:
- Rupiah ditutup melemah 0,36% ke Rp17.862 per dolar AS pada Selasa (18/8/2026), sebelum RDG BI mengumumkan hasilnya.
- Bank Indonesia memutuskan menahan BI Rate di level 5,75% pada Rabu (19/8/2026), dipimpin Pjs. Gubernur BI Destry Damayanti.
- IHSG ikut tertekan, dibuka melemah 0,65% ke 6.408 di tengah penantian pasar terhadap arah kebijakan moneter.
Jakarta, 19 Agustus 2026 — Rupiah melemah ke level Rp17.862 per dolar AS pada penutupan Selasa (18/8/2026), tertekan jelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Bank sentral akhirnya memutuskan mempertahankan BI Rate di 5,75% pada Rabu siang, di tengah kewaspadaan pasar terhadap stabilitas nilai tukar dan geopolitik Timur Tengah.
Mengapa Ini Penting?

Pelemahan rupiah ke Rp17.862 per dolar AS bukan kejadian berdiri sendiri. Berdasarkan data Doo Financial Futures, mata uang Garuda terkoreksi 64 poin atau 0,36% pada penutupan Selasa (18/8/2026), menjadikannya salah satu yang tertekan di Asia — hanya kalah dari peso Filipina yang melemah 0,50%. Pelemahan ini terjadi persis di tengah dua hari pelaksanaan RDG BI, 18–19 Agustus 2026, yang hasilnya ditunggu pasar karena berdampak langsung ke imbal hasil obligasi dan arah nilai tukar.
Pasar juga mencermati rilis data transaksi berjalan kuartal II-2026 yang dijadwalkan pekan ini, setelah defisit kuartal I-2026 melebar ke level terdalam sejak 2019. Di sisi eksternal, kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah turut menekan sentimen risiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Rabu pagi, rupiah sempat dibuka bervariasi — mengacu data Bloomberg, mata uang Garuda bergerak tipis di kisaran Rp17.860–Rp17.865 per dolar AS, sebelum akhirnya para pelaku pasar mengalihkan perhatian penuh ke hasil RDG yang diumumkan siang harinya.
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia … memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%”
— Destry Damayanti, Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia, 19 Agustus 2026
Keputusan ini merupakan RDG perdana yang dipimpin Destry sebagai Pjs. Gubernur BI. Selain BI Rate, bank sentral juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility di 4,75% dan Lending Facility di 6,50%. Menurut keterangan resmi BI, kebijakan ini konsisten menjaga stabilitas rupiah dari gejolak global akibat perang di Timur Tengah, sekaligus menahan inflasi dalam sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.
Reaksi dan Dampak

Keputusan menahan suku bunga ini sejalan dengan proyeksi mayoritas ekonom. Survei BIG Consensus Insights terhadap 10 ekonom dan analis menunjukkan seluruh responden (100%) memperkirakan BI Rate tidak berubah dari 5,75%, dengan stabilitas rupiah (80%) dan inflasi domestik (60%) sebagai faktor paling dominan dalam pertimbangan bank sentral.
Chief Economist BCA David Sumual menilai kondisi pasar keuangan relatif kondusif menjelang keputusan ini, seiring masuknya kembali investor asing ke pasar negara berkembang.
“Investor kembali risk-on ke emerging market”
— David Sumual, Chief Economist Bank Central Asia, 18 Agustus 2026
Data makro turut mendukung sikap wait and see BI. Inflasi Juli 2026 tercatat deflasi 0,14% secara bulanan, sementara inflasi tahunan turun ke 2,88% dari 3,34% pada Juni 2026, dan inflasi inti stabil di 2,76%. Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menilai data ini membuat BI belum memiliki urgensi mendesak untuk kembali menaikkan suku bunga, setelah menaikkannya secara agresif sebesar 75 basis poin sepanjang April–Juni 2026 untuk menopang rupiah.
Di pasar saham, dampaknya terasa pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Setelah ditutup menguat 0,75% ke posisi 6.449,83 pada Selasa (18/8/2026) — meski diwarnai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp689 miliar — IHSG dibuka melemah 0,65% ke level 6.408,18 pada Rabu pagi, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar menjelang pengumuman RDG.
Kronologi Peristiwa

| Waktu | Kejadian |
|---|---|
| Selasa, 18/8/2026 (penutupan) | Rupiah melemah 0,36% ke Rp17.862/USD; IHSG menguat 0,75% ke 6.449,83 |
| Selasa–Rabu, 18–19/8/2026 | RDG Bank Indonesia digelar dua hari |
| Rabu, 19/8/2026 (pagi) | Rupiah dibuka bervariasi Rp17.860–17.865/USD; IHSG dibuka melemah 0,65% ke 6.408,18 |
| Rabu, 19/8/2026 (siang) | BI umumkan hasil RDG: BI Rate ditahan di 5,75% |
Apa Selanjutnya?

Fokus pasar kini bergeser ke rilis data transaksi berjalan kuartal II-2026 yang dijadwalkan pekan ini, setelah defisit kuartal I-2026 tercatat melebar ke level terdalam sejak 2019. Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai sikap kebijakan BI akan tetap condong pada stabilitas rupiah, meski separuh ekonom yang disurvei BIG Consensus Insights masih melihat arah kebijakan bisa condong hawkish jika tekanan eksternal kembali meningkat.
Di sisi global, arah suku bunga The Fed — yang ditahan di 3,50%–3,75% pada FOMC akhir Juli 2026 — serta perkembangan ketegangan geopolitik Timur Tengah akan tetap menjadi penentu utama pergerakan rupiah dan IHSG dalam beberapa pekan mendatang.